.comment-body-author { background: #ffffff url(https://picasaweb.google.com/lh/photo/eS4D2Il6C9qx_vj9a0fdrg?feat=directlink) bottom right no-repeat; padding:0px 0px 80px 20px; }
twitter


 (Vibizdaily - Nasional) Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humoris. Ia kerap melontarkan guyonan baik dalam acara santai maupun formal. Terkadang, lelucon yang disampaikan juga berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat.

"Jadi joke-joke itu sendiri memang disenangi oleh masyarakat kita," kata sosiolog UI, Musni Umar, saat berbincang lewat telepon, Minggu (3/1/2010) malam.

Musni menilai, guyonan ala Gus Dur berdampak secara sosiologis pada publik. Kondisi masyarakat yang masih belum bisa menerima kritikan secara langsung, bisa disalurkan lewat guyonan.

Sebagai contoh, salah satu guyonan Gus Dur yang paling terkenal adalah tentang pejabat kepolisian. Saat itu Gus Dur berkata, hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disuap. Mereka adalah mantan Kapolri Hoegeng, polisi patung, dan 'polisi tidur'.

"Joke itu mampu merefleksikan apa yang ada di masyarakat kita sesungguhnya. Ketimbang secara terus terang mengkritik habis-habisan. Ini lebih mengena," urainya.

Guyonan Gus Dur juga diyakini mengandung makna filosofis yang mendalam dalam sendi kehidupan masyarakat. Sepintas, apa yang terlontar dari mulut Gus Dur akan terkesan kontroversial. Namun, apabila difikirkan secara mendalam, ucapan mantan Presiden RI ke 4 itu sesungguhnya bertujuan untuk kebaikan.

"Ada hal-hal yang kontroversial untuk zamannya. Tapi saat kita fikirkan lagi sekarang, ternyata memang benar apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu," paparnya.

Langkah Gus Dur dalam memberi kritik patut ditiru. Terutama oleh para politisi negeri ini. Sindiran dengan cara halus lewat guyonan tidak akan membuat pihak lain tersinggung. Apalagi emosional.

"Dengan cara itu, misi bisa tercapai tapi tidak terasa menyakitkan. Karena tidak mungkin di negara demokrasi tidak ada kritik," pungkasnya.

0 komentar: