.comment-body-author { background: #ffffff url(https://picasaweb.google.com/lh/photo/eS4D2Il6C9qx_vj9a0fdrg?feat=directlink) bottom right no-repeat; padding:0px 0px 80px 20px; }
twitter


Kuhn dan Küng: Perubahan Paradigma Ilmu dan Dampaknya Terhadap Teologi Kristen


“A new scientific truth does not triumph by convincing its opponents and making them see the light, but rather because its opponents eventually die, and a new generation grows up that is familiar with it”(Max Planck, dikutip dalam Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, revised, Chicago-London : The University of Chicago Press, 1970, p.151).



Pendahuluan

Di dalam tahun-tahun 1920-30 kalangan positivisme logis (logical positivism) yang biasanya dikenal dengan “Lingkaran Wina” (Moritz Schlick dan Rudolf Carnap) mengemukakan bahwa teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences) ditetapkan melalui ‘verifikasi’ ( statement “tembaga menghasilkan daya listrik” adalah terbukti benar dan tidak terbantahkan lagi). Teori verifikasi ini amat berpengaruh di dalam dunia ilmu pengetahuan, termasuk di Indonesia. Ketika saya menjadi mahasiswa di sekolah teologi (1972-77), dosen filsafat saya yang baru lulus Ph.D. di USA menerangkan panjang lebar mengenai positivisme logis (dan berdasarkan hal itu menertawakan proposisi-proposisi religious-teologis) tetapi tidak menyebut apa-apa mengenai kemungkinan yang lain. Tetapi sudah sejak 1935 Karl Popper melalui bukunya The Logic of Scientific Discovery (Jer: Logik der Forschung) mengemukakan bahwa aturan-aturan untuk menetapkan hipotesa-hipotesa baru dan teori-teori baru tidak ditentukan oleh konfirmasi positip, koroborasi dalam percobaan dan pengalaman ataupun oleh verifikasi. Banyak statement (misalnya “semua tembaga di dalam alam semesta ini menghasilkan daya listrik”) tidak bisa diverifikasi sebab tidak mungkin. Bukan verifikasi yang menentukan melainkan ‘falsifikasi’ dan prinsip yang mengikutinya kemudian disebut prinsip ‘falsifiabilitas’. Penemuan angsa-angsa berwarna hitam di Australia langsung memperlihatkan kebersalahan proposisi yang tadinya dianggap berlaku universal yaitu “semua angsa berwarna putih”. Dari pengamatan induktif yang menemukan bahwa ada angsa hitam, dapat dideduksikan secara umum juga bahwa “Ada angsa-angsa yang tidak putih”. Penemuan angsa hitam membuktikan kebersalahan proposisi “semua angsa berwarna putih”. Tetapi daripada memfrustrasikan, hal ini justru dapat dilihat positif. Teori ilmiah yang baik adalah teori ilmiah yang dapat dibuktikan salah, sedangkan teori ilmiah yang tidak baik adalah teori ilmiah yang tidak dapat dibuktikan salah. Maka Popper sangat mengecam klaim-klaim beberapa teori besar yang memberi kesan tidak memberi tempat pada kemungkinan dirinya dapat salah, seperti teori negara dan masyarakat yang bersumber dari Plato, psiko-analisa dari Freud dan teori sosial dari Marx.

Teori Popper tidak mendapat sambutan yang sama seperti sambutan terhadap verifikasi. Namun sementara itu muncullah pertanyaan-pertanyaan apakah perkembangan ilmu atau lebih baik, sains, ditentukan oleh logika, entah logika yang mengarah pada verifikasi maupun logika yang mengarah pada falsifikasi? Atau adakah faktor-faktor lainnya yang ikut menentukan, bahkan lebih menentukan daripada logika dari ilmu itu sendiri? Di dalam dunia ilmu-ilmu sosial dan humaniora sudah lama disadari bahwa faktor-faktor sejarah, komunitas ilmiah, dan orangnya (subjek yang meneliti) merupakan faktor-faktor yang amat menentukan. Tidak ada epistemologi pengetahuan yang dapat dilakukan tanpa menggabungkan teori pengetahuan, sejarah pengetahuan dan sosiologi pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam (“the natural sciences”) yang di Indonesia biasanya disebut “sains”, akhirnya tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh penelitian terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Hipotesa-hipotesa baru dan teori-teori baru tidak muncul oleh karena prinsip verifiabilitas maupun falsifiabilitas, melainkan oleh karena sebuah paradigma yang lama digantikan oleh sebuah paradigma yang baru. Jadi terjadi sebuah perubahan paradigma. Kita akan segera membahas di bawah ini apa yang dimaksudkan dengan ‘paradigma’ dan ‘perubahan paradigma’, tetapi baiklah saya menutup pendahuluan ini dengan mengemukakan bahwa pemahaman tentang perubahan paradigma di dalam sains ini dikemukakan oleh Thomas Kuhn dari USA sejak tahun 1950-an. Menjelang tahun 60-an ia menerima permintaan dari International Encyclopedia of Unified Science untuk menulis rubrik mengenai sejarah ilmu, dan pada tahun 1962 rubrik itu diterbitkan sebagai sebuah buku yang secara khusus membicarakan paradigma ilmu dan ilmu normal. Buku ini segera menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan alam, dan barangkali karena sifatnya yang kontroversial, maka pengikutnyapun tidak banyak. Dapat dikatakan bahwa komunitas sains umumnya tetap mengacu pada teori verifikasi, sebagian mengacu pada falsifikasi, namun sebagian besar mengabaikan saja teori perubahan paradigma dari Kuhn.


Pandangan Thomas Kuhn mengenai paradigma ilmu

Menurut Kuhn, filsafat ilmu sebaiknya berguru pada sejarah ilmu yang baru. Katanya, Popper yang sudah disebut di atas, membalikkan kenyataan dengan terlebih dulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesa yang disusul upaya falsifikasi. Padahal perubahan-perubahan mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau system, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Kemajuan ilmiah adalah bersifat revolusioner, dan tidak seperti anggapan sebelumnya, yaitu bersifat kumulatip, dengan kata lain evolusioner. Mengapa tidak disadari bahwa kemajuan itu bersifat revolusioner? Oleh karena hanya terasa revolusioner bagi mereka yang terkena dampaknya, atau lebih baik, mereka yang paradigmanya terkena dampak dari perubahan revolusioner ini. “Paradigma” menjadi konsep sentral dalam pemikiran Kuhn. Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh sebuah paradigma tunggal. Tetapi salah satu masalah dalam tesis Kuhn adalah pemahaman mengenai pengertian paradigma itu sendiri, yang ternyata tidak begitu jelas. Di satu pihak, Kuhn mengatakan bahwa “paradigma” yang ia maksudkan tidak sama dengan “model” atau “pola” melainkan lebih daripada itu. Tetapi kemudian dalam penerapan teori Kuhn ke bidang-bidang di luar sains, istilah “model”, “pola” dan “tipe” kerap dicampurkan saja dengan “paradigma”. Di dalam postscript, Kuhn mengakui bahwa ia menggunakan istilah “paradigma” dalam dua arti, pertama sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dsb yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas ilmiah tertentu dan kedua, sejenis unsur dalam konstelasi itu, pemecahan teka-teki yang kongkret, yang jika digunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains yang normal, yang masih tersisa. Menurut Kuhn, kedua makna ini bisa dipakai, namun yang lebih mendalam secara filsafati adalah yang kedua.

Paradigma tunggal ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Yang dimaksudkan dengan ilmu normal adalah penelitian yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yl, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah tertentu diakui pada suatu kurun waktu tertentu sebagai menyediakan dasar atau fondasi bagi praktik selanjutnya. Para ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma ini secara rinci dan mendalam, karena tidak sibuk dengan hal-hal mendasar. Karena paradigma diterima, maka dengan sendirinya para ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma tsb, karena paradigma itulah yang membimbing aktivitas ilmiahnya. Namun selama menjalankan penelitiannya, para ilmuwan bisa menemukan pelbagai kejanggalan berupa ketidaksesuaian teori dengan fenomena. Kejanggalan atau “anomali” ini justru merupakan sebuah petunjuk yang penting mengenai perkembangan ilmu. Jika anomali semakin menumpuk dan kualitasnya semakin meninggi, maka timbullah krisis. Dalam krisis ini orang mulai mempertanyakan paradigma. Pada waktu itu ilmuwan tidak lagi melakukan ilmu normal. Ia diperhadapkan pada pemilihan apakah akan kembali kepada cara-cara ilmiah yang lama, atau berpindah pada sebuah paradigma baru yang memecahkan masalahnya dan dengan demikian merupakan tandingan terhadap paradigma lama. Jika ia memilih yang terakhir, maka terjadilah sebuah revolusi ilmiah, oleh karena di antara paradigma baru dan paradigma lama tidak ada benang merah logika atau rasionalitas, dalam arti keduanya tidak bisa disesuaikan. Paradigma lama ditinggalkan bukan karena atau kurang ilmiah dibandingkan yang baru, tetapi karena dianggap tidak sesuai lagi untuk memecahkan masalah. Istilah yang dipakai oleh Kuhn untuk menyebut ketidakrasionalan ini adalah “incommensurable” atau “incommensurability”. Tetapi Kuhn menambahkan bahwa kebanyakan ilmuwan memilih untuk bertahan dalam ilmu normal dan mengikuti paradigma yang lama, oleh karena mengikuti paradigma yang baru membawa dampak yang berat bagi studi dan kegiatan mereka. Perubahan yang bersifat paradigmatik selalu bersifat revolusioner, dan efeknya sama seperti sebuah perubahan perspektip atau orientasi. Berbicara mengenai perspektip dan orientasi tidak dapat tidak menyebabkan orang berpikir mengenai “worldview”. Perubahan yang bersifat paradigmatik bisa mencakup perubahan worldview. Kuhn tidak menyangkal bahwa pemahamannya mengenai perubahan paradigma sains dipengaruhi oleh perkembangan di bidang psikologi Gestalt. “What were ducks in the scientist’s world before the revolution are rabbits afterwards”. Van Peursen di dalam bukunya mengenai filsafat ilmu memuat 3 gambar mengenai perubahan menurut psikologi tsb, tetapi saya hanya mengambil satu yaitu gambar bebek-kelinci yang sesuai dengan statement Kuhn di atas. Gambar ini berasal dari filsuf Austria-Inggris Wittgenstein dan Wittgensteinpun mengambilnya dari Jastrow sang psikolog.) :




Di dalam banyak catatan-catatan pakar sains dijumpai pergumulan hebat dalam menghadapi anomali dan kenyataan paradigma baru. Einstein yang dapat disebut pembangun paradigma baru merasa “as if the ground had been pulled out from under one, with no firm foundation to be seen anywhere, upon which one could have been built”. Setelah menyadari dampak dari mereka yang kemudian memperkembangkan teori kuantum terhadap teologi, terutama mengenai Yang Ilahi, maka Einstein tidak ragu-ragu untuk memberi pernyataan teologis termasyhur yang bertentangan sendiri dengan posisi baru yang bersifat indeterministik, di mana seharusnya dia berdiri : “The Old Man (maksudnya Tuhan) does not play dice with the universe”. Apabila Kuhn mengatakan bahwa kebanyakan ilmuwan bertahan dalam paradigma lama, maka bukanlah maksudnya untuk menilai negatip sikap tsb. Kegiatan-kegiatan tradisional dari sebuah ilmu normal justru merupakan inti kegiatan ilmiah. Perlawanan seumur hidup terhadap paradigma baru dari mereka yang sudah terikat dengan paradigma lama bukanlah merupakan pelanggaran standar-standar ilmiah, melainkan justru index dari hakikat riset ilmiah itu sendiri. Perubahan paradigma mendatangi/menyatakan diri kepada ilmuwan dan bukannya bahwa ilmuwan itu secara sengaja berusaha menciptakan perubahan paradigma. Meskipun menurut Kuhn, apa yang dikemukakan oleh Max Planck di atas (di bawah judul artikel ini) ada benarnya, ia lebih suka membayangkan bahwa perpindahan kesetiaan dari sebuah paradigma lama ke paradigma baru terjadi kurang lebih sebagai pengalaman pertobatan. Bertobat berarti berubah perspektip dan orientasi, tetapi tidak berarti yang sebelumnya itu salah atau tidak benar. Hal itu menandakan bahwa ada kesejajaran di antara inter-aksi di dalam bidang sains dengan bidang agama-teologi. Sikap ilmuwan dan agamawan-teolog seringkali sama saja. Bukan hanya pada yang terakhir saja kita melihat perdebatan-perdebatan yang tidak kunjung habis, tetapi juga di bidang sains. Di kedua dunia, perdebatan baru selesai (atau tidak selesai?) apabila terjadi perpindahan paradigma. Susahnya dalam pengertian populer, istilah “revolusi” dan “pertobatan” mengandung makna etis : yang dulu salah atau jelek, makanya pindah ke yang baru, yang benar dan baik. Asal kita maklum saja bahwa Kuhn menggunakan kedua istilah tsb tidak dalam pengertian populer.

Demikianlah jalannya perkembangan ilmu. Di dalam bukunya Kuhn memberikan contoh-contoh dari sains bagaimana revolusi di bidang sains terjadi. Revolusi-revolusi ini semuanya terjadi sesudah pertengahan abad 19, oleh karena sebelumnya tidak ada komunitas kaum ilmuwan. Sebelum itu ada berbagai paradigma yang berseliweran. Baru sesudah komunitas ilmuwan terbentuk, orang terbiasa bekerja dalam ilmu normal di bawah payung paradigma tunggal. Sebagai awam di bidang sains tentu sulit sekali bagi saya untuk mengikuti uraiannya, tetapi yang dapat saya tangkap adalah bahwa perkembangan ini tidak hanya terjadi dalam hal besar-besar saja, seperti perubahan pemahaman mengenai pusat alam semesta dari worldview Ptolemaian ke worldview Kopernikan-Galileian, atau dari worldview Newtonian ke worldview Einsteinian, tetapi juga dalam sejarah perkembangan fenomena listrik, oksigen dan lain-lain, yang merupakan “revolusi-revolusi kecil”. Yang masih tersisa adalah persoalan apakah tidak terdapat kemungkinan bahwa di dalam sains bisa terdapat dua paradigma, bahkan di dalam satu orang ilmuwan bisa terdapat dua paradigma? Di dalam prakata, Kuhn mengakui bahwa uraiannya mengenai pra dan pasca-paradigma di dalam perkembangan ilmu dibuat terlalu ketat. Bisa terjadi kemungkinan, meskipun jarang, bahwa dua paradigma yang saling berkompetisi dapat hidup berdampingan secara damai. Tetapi hal ini tentunya berdampak pada pengertian dia mengenai “revolusi”. Maka kadang-kadang dia berbicara mengenai “paradigm change” (“perubahan paradigma”), tetapi kadang-kadang juga mengenai “paradigm shift” (“pergeseran paradigma”). Hans Küng yang kemudian menerapkan teori Kuhn ke bidang teologi memanfaatkan ketidakkonsekwenan Kuhn ini dengan mengartikan “paradigm change” sebagai sebuah proses yang berjalan secara revolusioner, tetapi tidak pernah terjadi sebuah “total break”. Bagi dia, “paradigm change” tidak berarti “paradigm switch” (“pertukaran/pergantian paradigma”. Lepas dari ketidakkonsekwenan ini Kuhn telah berjasa besar mendekatkan sains dengan ilmu-ilmu lainnya, sebagai sama-sama terikat pada ruang dan waktu. Saya menutup uraian mengenai Kuhn dengan mengutip kesan Clifford Geertz, ilmuwan sosial terkemuka dari USA, ketika mengenang kematian Kuhn : “What remains as Kuhn’s legacy, … is his passionate insistence that the history of science is the history of the directed growth and replacement of self-recruiting, normatively defined, variously directed, and often sharply competitive scientific communities”. “Structure opened the door to the eruption of the sociology of knowledge into the study of those sciences about as wide as it could be opened”.


Hans Küng dan perubahan Paradigma di dalam ilmu Teologi

Küng pertama kali mengemukakan pendapatnya di atas dalam buku Theology for the Third Millenium. Setahun kemudian dia dan teolog USA David Tracy mengorganisir sebuah simposium besar di universitas Tübingen, Jerman (waktu itu) Barat mengenai “Paradigm Change in Theology”. Hasil dari simposium ini dibukukan dengan judul yang sama. Upaya menerapkan pemahaman Kuhn mengenai paradigma ke dalam teologi dilakukan di dalam kerangka kesadaran bahwa kita sedang memasuki era postmodern. Dengan mengambil pengertian perubahan paradigma yang tidak berarti diskontinuitas radikal, Küng meyakini bahwa kita tidak perlu memilih di antara pemahaman yang bersifat relativis atau absolutis, melainkan di antara kontinuitas radikal atau diskontinuitas radikal. Semua perubahan paradigma memperlihatkan pada saat yang sama, kontinuitas dan diskontinuitas, rasionalitas dan irasionalitas, stabilitas konseptual dan perubahan konseptual, unsur-unsur yang revolusioner dan evolusioner. Bahkan menurut Küng, kalau kita tidak menyukai istilah perubahan ‘revolusioner’, maka kita bisa berbicara mengenai perubahan drastik (tidak hanya bertahap) dan paradigmatik (tidak hanya konseptual). Küng tetap sadar bahwa ada perbedaan di antara sains dan humaniora, apalagi dengan teologi. Tetapi dia melihat bahwa sainspun bisa dipengaruhi oleh presuposisi-presuposisi religius, seperti yang kita lihat contohnya pada Einstein di atas. Kemudian antitesa yang lama di antara sains yang menekankan penjelasan (explanation, erklären) dan humaniora yang menekankan pemahaman (understanding, verstehen) sudah ketinggalan zaman. Di dalam sainspun orang bergumul dengan makna, dan di dalam humaniorapun orang bergumul dengan analisis.

Berbeda dengan Kuhn yang baru berbicara mengenai “kebenaran” (“truth”) pada halaman-halaman terakhir, keprihatinan teologi justru adalah menyangkut kebenaran, tetapi bukan kebenaran yang berdiri sendiri, melainkan kebenaran dari kehidupan (the truth of life) atau masalah-masalah kehidupan (the problems of life). Jadi teologi mulai pada batas-batas ilmu. Tetapi semua pertanyaan-pertanyaan vital mengenai kehidupan dan realitas yang utama dan pertama (an ultimate and original reality) dijalankan oleh teologi dengan cara-cara yang rasional. Teologi adalah suatu pembicaraan yang rasional mengenai Tuhan. Namun hal itu tidak menutupi kenyataan, bahwa teologi yang rasional-ilmiah itu sangat bersifat historik. Maka oleh karena sifatnya yang historik itu maka teologi, sama seperti sains, juga tercakup dalam ruang dan waktu. Berarti kita bisa melihat dalam sejarah perkembangan teologi, perubahan-perubahan yang bersifat paradigmatik.

Mengapa Küng perlu menekankan hal ini? Oleh karena meskipun sudah agak lama dunia teologi Kristiani belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan sejarah yang memahami teologi sebagai teologi-teologi yang berasal dari konteks-konteks yang berbeda-beda, tetap masih saja terdapat pemahaman yang sangat kuat mengenai adanya sebuah teologi dasar (teologi fundamental) yang universal sifatnya, dan tidak termakan oleh ruang dan waktu. Satu bukti sederhana saja untuk memperlihatkan hal ini : ketika di Fakultas Teologi UKDW beberapa orang mau mengindonesiakan istilah “theologia” menjadi “teologi” muncul protes keras dari para kolega mereka, yang memberi bermacam-macam alasan untuk protes mereka, yang sebenarnya tidak kuat. Tetapi alasan yang sebenarnya tidak disebutkan, dan dapat diduga bahwa alasan di ataslah yang mendasari protes ini. Kita juga maklum bahwa di dunia Barat untuk waktu yang cukup lama, teologi menjadi Regina Scientiarum, “The Queen of the Sciences”, dan meskipun hal itu telah menjadi sejarah masa lampau, sekali-sekali pada masa kini, juga di dalam konteks Indonesia, kita masih bisa mendengarkan orang berbicara mengenai teologi sebagai satu-satunya ilmu yang tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu, dan karena itu merupakan ilmu yang paling unggul dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya!

Berdasarkan hal-hal di atas maka Küng bekerja keras memeriksa seluruh lembaran sejarah teologi (berarti dia harus kembali dari abad ke 20 ke abad-abad pertama) dan menggambarkan delapan perubahan paradigma di bidang teologi, mulai dari 1/Paradigma apokaliptik dari Kekristenan primitip, 2/Paradigma Hellenistik dari gereja perdana, 3/Paradigma Katolik Roma dari abad pertengahan, 4/Paradigma Protestan-reformasi, 5/Paradigma Katolik Roma kontra reformasi, 6/Paradigma Protestan-ortodoks, 7/Paradigma Modern-Pencerahan dan 8/Paradigma Kontemporer-Ekumenikal. Di dalam buku Küng yang terbit kemudian, jumlah paradigma telah dikurangi menjadi enam, dengan menjadikan paradigma 5 dan 6 sebagai provisional. Küng sendiri tetap berhati-hati di dalam menawarkan usulan barunya ini. Tidak segala sesuatu dapat dimasukkan di bawah istilah “paradigma”. “Not every theory, not every method, not every hermeneutics, not every theology is already a paradigm”. Yang membuatnya layak disebut paradigma adalah karena telah mengalami pergeseran zaman (“epochal shifts”) dan karena itu dapat diperiodisasi (“periodization”). Kemudian yang juga menentukan adalah krisis-krisis di dalam dunia berteologi, dan yang ketiga, meskipun tidak disangkal ada teolog-teolog individual raksasa (seperti Karl Barth yang mengubah perjalanan teologi), seorang teolog maupun teologi secara keseluruhan tidak dapat begitu saja menciptakan paradigma. Di dalam buku simposium di atas juga ada kritik yang tajam dari Stephen Toulmin, sang filsuf pengetahuan, yang meskipun menyambut usaha melihat sains dan teologi sebagai berada di dalam lingkup sejarah, curiga bahwa usaha menjadikan perkembangan teologi sebagai sesuai dengan perkembangan sains oleh Kuhn, tetap memperlihatkan kecenderungan dan kesalahan teologi dalam sejarah masa lampau – Katolik yang menggambarkan teologi dengan kategori Aristotelian dan Protestan yang menggambarkan teologi dengan kategori Newtonian – yang ingin meminjam wibawa sains untuk teologi. Kesalahannya terletak dalam asumsi bahwa kategori-kategori tsb bersifat tetap dan universal. Toulmin mengusulkan kiranya kalau istilah paradigma sulit diterapkan ke dalam teologi, mbok ya sudah, nggak usah, jadi “paradigmless” sajalah!

Meskipun ada peringatan untuk berhati-hati, usulan Küng umumnya disambut baik di dunia teologi Barat. Kita melihat misalnya di bidang missiologi, David Bosch menciptakan paradigma-paradigma dalam sejarah misi/pewartaan Injil yang komprehensip berdasarkan pemahaman perubahan paradigma Küng. Bosch memperlihatkan enam paradigma : 1/Paradigma misi gereja perdana; 2/Paradigma misi gereja timur; 3/Paradigma misi Katolik Roma abad pertengahan, 4/Paradigma misi reformasi Protestan, 5/Paradigma misi pada awal zaman pencerahan dan 6/Paradigma misi ekumenik yang masih dibagi lagi menjadi 13 (!) sub-paradigma. Di bidang-bidang lainnya, meskipun tidak menggunakan istilah “perubahan paradigma” dan “paradigma”, orang mengusulkan studi teologi dan cara berteologi baru berdasarkan perubahan model-model, mulai dari model Gereja sampai ke model Allah. Bukannya berarti bahwa tidak ada yang tidak setuju. Belum lama ini Robert F. Shedinger dari USA menulis artikel yang menyarankan kepada para pakar biblika untuk tidak menggunakan teori Kuhn di dalam menggambarkan perubahan-perubahan di dalam bidang tafsir atau hermeneutik, oleh karena biblika bukan sains dalam pengertian Kuhn. Para pakar biblika yang telah merujuk pada Kuhn di dalam artikel Shedinger dibabat habis-habisan untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan dan pahami sebagai sesuai dengan pemikiran Kuhn, ternyata jauh daripada itu. Apakah Shedinger berhasil di dalam argumentasinya? Menurut saya tidak. Ia bertolak dari pemahaman bahwa Kuhn berbicara mengenai satu paradigma di dalam sains, padahal di dalam bidang biblika selalu ada lebih dari satu paradigma, entah dulu maupun sekarang. Namun kita telah melihat di atas bahwa akhirnya Kuhnpun bersedia terbuka pada kenyataan, bahwa bisa terjadi ada dua paradigma yang di satu pihak saling berkompetisi, tetapi sekaligus juga hidup berdampingan secara damai. Kemudian Shedinger menekankan bahwa perubahan-perubahan kecil-kecil tidak dapat disebut paradigmatik, tetapi di ataspun kita telah melihat bahwa Kuhn tidak membatasi perubahan paradigma pada revolusi-revolusi besar, tetapi juga pada yang kecil-kecil, bahkan pada komunitas ilmiah yang hanya terdiri dari 25 orang saja! Dan yang terakhir dia menarik garis batas yang tajam di antara sains dan biblika, padahal kita telah melihat komentar Geertz di atas, bahwa Kuhn justru membuat terobosan yang menghubungkan sains dan ilmu-ilmu lainnya. Mungkin Shedinger sadar juga akan hal ini, sebab pada bagian-bagian akhir artikelnya ia mengkwalifikasikan pendapatnya sampai empat kali, sehingga melemahkan posisinya sendiri. Lepas dari kelemahan ini, artikel Shedinger berguna untuk mencegah kita menggunakan teori perubahan paradigma Kuhn untuk menggambarkan perubahan apa saja yang terjadi di bidang ilmu yang menjadi kekhususan kita. Saya mengamati bahwa di Indonesia telah terjadi ‘banjir’ penggunaan istilah “paradigma”. Istilah tsb dipakai oleh siapa saja untuk menggambarkan apa saja!


Catatan-catatan Penutup

Di dalam bagian penutup ini saya memberanikan diri untuk memberi evaluasi terhadap Küng, yang merupakan perkembangan dari kritik Toulmin terhadap Küng. Di atas kita telah melihat kekuatiran Toulmin, bahwa Küng tetap saja ingin meneruskan kecenderungan teologi untuk mengacu pada sains. Meskipun Küng cukup waspada terhadap perbedaan sains dari humaniora, menurut saya kekuatiran Toulmin ada benarnya. Pada akhirnya pengambilalihan teori perubahan paradigma dari sains ke teologi didasarkan atas asumsi kedekatan analogis di antara teologi dengan sains. Kedekatan itu dilihat dari kacamata lama, yaitu rasionalitas dan objektivitas. Di dunia Barat biar bagaimanapun juga, sains masih tetap memegang kedudukan yang paling tinggi sebagai “Queen of the Sciences”. Kedudukan ini diperolehnya dengan menurunkan teologi dari tahtanya yang semula sebagai “Queen of the Sciences”, seperti yang kita baca dari sejarah masa Pencerahan di Eropa Barat. Oleh karena itu maka menurut pemikiran sebagian orang, kalau kita ingin teologi mendapatkan kembali pengaruhnya di dalam hidup bermasyarakat, maka teologi tetap perlu mempertahankan kedekatan analoginya dengan sains. Teori perubahan paradigma dari Kuhn memang menggoncangkan dunia sains dari tahun 70-80an. Tetapi yang sering dilupakan adalah bahwa teori ini tidak sedikitpun menggeser kemutlakan gambaran dunia sains (‘scientific worldview’). Ia masih tetap merupakan bagian dari dominasi gambaran dunia sains terhadap/dibandingkan dengan gambaran-gambaran dunia lainnya.

Padahal tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa sejak tahun 80an juga terjadi perubahan penting (kalau tidak paradigmatik) yang seharusnya berdampak pada berkurangnya dominasi gambaran dunia sains ini. Perubahan ini ditimbulkan oleh hasil-hasil perkembangan ilmu-ilmu sosial-humaniora. Ilmu-ilmu ini, yang meneliti dunia sosial-budaya bukan saja dari masyarakat dunia pertama dan kedua, tetapi juga dan terutama dunia ketiga pada akhirnya memberi keyakinan bahwa selain gambaran dunia sains, terdapat juga gambaran dunia budaya (‘cultural-traditional worldview’), dan bahwa di dalam gambaran dunia budaya ini termasuk juga gambaran dunia religius yang non-saintifik, atau data saintifiknya telah ketinggalan zaman. Para ilmuwan sains sering mempertentangkan gambaran dunia modern dengan gambaran dunia budaya yang tradisional-religius, dan menganjurkan agar orang membuang gambaran dunia budaya yang tradisional ini oleh karena tidak berguna dalam pengertian tidak ilmiah. Padahal menurut para ilmuwan sosial, gambaran dunia budaya itu justru sangat penting, oleh karena melaluinya mereka dapat menemukan dan menekankan pada makna, bukan wujud faktual sebagai data dan pada perilaku, bukan norma. Dampak dari penemuan ilmu-ilmu sosial ini nampak pada filsafat hermeneutik yang semakin lama semakin berpindah dari masalah inter-aksi di antara manusia dan gambaran dunia sains ke inter aksi di antara manusia dan gambaran dunia non-sains. Hal ini hanyalah merupakan sebuah contoh untuk memperlihatkan bagaimana kesadaran orang mengenai keabsahan gambaran dunia non-sains mulai berkembang dan pastilah akan menjadi mantap pada permulaan millennium III ini. Di lingkungan program pascasarjana teologi Fakultas Teologi UKDW misalnya, filsafat ilmu tidak lagi diajarkan dalam rangka dialog teologi dengan sains, tetapi dalam rangka dialog teologi dengan ilmu-ilmu sosial-humaniora!

Tentulah hal ini tidak dimaksudkan untuk mengagendakan dominasi ilmu sosial-humaniora terhadap sains. Barangkali masalahnya terletak di sini, bahwa diam-diam kita toh mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tidak betul, yaitu dominasi ilmu yang satu terhadap ilmu yang lain. Sebagai anggota-anggota MYIA, kita telah bersama-sama menelaah pandangan Ian G. Barbour dalam When Science meets Religion, HarperSanFransisco, 2000, yang memperlihatkan 4 posisi hubungan ilmu dan agama : konflik, independen, dialog dan integrasi. Kedua sikap pertama muncul oleh karena baik ilmu maupun agama masing-masing merasa bahwa gambaran dunianyalah yang unggul dibandingkan dengan yang lain. Kita sepakat untuk meninggalkan kedua posisi yang pertama dan masuk ke dalam posisi ketiga dan keempat. Saya setuju saja, tetapi tanpa perubahan sikap dasar seperti yang diperlihatkan oleh Kuhn di bidang sains dan Küng di bidang teologi, yang menempatkan baik sains dan teologi di dalam naungan ruang dan waktu, dalam arti membuat kedua-duanya kehilangan kemutlakannya dan menjadi sama-sama terbatas, akan sulit bagi kita untuk sungguh-sungguh memaknai keputusan kita untuk masuk ke posisi dialog dan integrasi tsb.

0 komentar: