.comment-body-author { background: #ffffff url(https://picasaweb.google.com/lh/photo/eS4D2Il6C9qx_vj9a0fdrg?feat=directlink) bottom right no-repeat; padding:0px 0px 80px 20px; }
twitter



"Politics is the science of the good for man, to be happiness."


Apakah yang membahagiakan manusia, seorang warga negara, di dalam republik demokratis? Tentu hidup yang berpedoman pada nilai-nilai utama: kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan, kerakyatan, kesejahteraan, dan solidaritas.


Nilai-nilai inilah sumber motivasi suatu republik dan individu yang menjadi warga negara karena dijamin hak-hak individual dan sosialnya berupa hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Prasyarat emansipasi individual dan sosial!

Apa musuh utamanya? Totaliterisme dan dogmatisme, termasuk totaliterisme pasar (neoliberalisme), juga fundamentalisme agama dan etnokultur. Semua jenis totaliterisme tersebut memusuhi dan meluluhlantakkan nilai-nilai dan hak-hak warga negara. Cara melawannya? Dengan kritisisme. Menciptakan budaya kritis dalam kehidupan individual-sosial: menanamkan kritisisme di jantung republik!

Kritisisme dan demokrasi

Karl Raimund Popper menunjukkan hubungan erat kritisisme dengan perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan dalam metodologi pemecahan masalah (problem-solving methodology). Metodologi ini selalu dirumuskan dari problem empiris dan dapat disangkal secara empiris pula.

Skema sederhananya, P1-TS-EE-P2, di mana P1 = problem awal, TS = tentative solution (pemecahan sementara, teori yang diajucobakan), EE = error elimination (evaluasi kritis, kritik dengan observasi dan eksperimen), dengan tujuan menemukan dan membuang kesalahan, P2 = situasi baru yang diciptakan evaluasi kritis atau solusi tentatif terhadap problem awal. Evaluasi kritis, atau kritisisme menjadi kunci dari metodologi ini.

Kritik merupakan kekuatan motif utama untuk setiap perkembangan intelektual, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Tanpa kritik tak ada motif rasional untuk mengubah teori dan untuk mentransformasi masyarakat. Jadi, metode pertumbuhan pengetahuan adalah metode kritis atau kritisisme. Sebuah pendekatan yang mengakui bahwa segala praktik sosial kita (politik, ekonomi, ideologi, dan teoretis) selalu bersifat sementara (tentative), tak pernah absolut, dan dapat salah (fallible). Semua teori atau praktik sosial memiliki kemungkinan untuk gugur dalam ujian empiris yang keras.

Hampir serupa dengan Popper, Thomas Kuhn mengatakan revolusi saintifik dapat dijelaskan sebagai berikut: pre-scientific… Keretakan paradigma (paradigm rupture atau anomalies) merupakan momen aktivitas kritisisme antara teori dan praktik. Momen ini menumbuhkan peluang pencerahan baru untuk membangun teori alternatif dalam ilmu pengetahuan maupun praktik sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Dengan demikian, kritik bertujuan menemukan kesalahan kita, dan kita sadar sepenuhnya akan kemungkinan salah dari teori dan praktik. Karena itu, setiap saat kita harus bersedia mengkritik dan dikritik, menguji dan diuji secara empiris, dengan harapan akan menemukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Inilah dasar demokrasi, ruang publik yang berpedoman pada nilai-nilai, dan dilindungi negara hak-hak individual dan sosial warga negaranya. Dogmatisme adalah musuh ilmu pengetahuan, sedangkan totaliterisme adalah musuh demokrasi, musuh republik!

Sikap kritis atau kritisisme identik dengan sikap ilmiah (scientific) yang membangun hukum ilmu pengetahuan bersifat sementara (tentative), dapat salah (fallible), sedangkan dogmatisme, absolutisme, fundamentalisme, dan totaliterisme bersifat ilmiah-semu (pseudo-scientific).

Gerakan politik nilai

Kritisisme dan pedoman nilai-nilai merupakan jantung setiap gerakan mahasiswa. Peristiwa Lima Agustus yang terjadi pada 1989 di ITB, misalnya, adalah: 
(1) gerakan menolak totaliterisme Orde Baru yang bertentangan dengan nilai-nilai: kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan, kerakyatan, kesejahteraan, dan solidaritas; 
(2) gerakan menolak dogmatisme melalui indoktrinasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4);
(3) gerakan merayakan kritisisme dalam kehidupan akademis, ilmu pengetahuan, dan publik; 
(4) gerakan membela dan memperjuangkan hak-hak individual dan sosial sebagai prasyarat demokrasi di Indonesia; dan 
(5) gerakan politik nilai yang konfrontatif untuk menggulingkan rezim fasis-militeristik Orde Baru dan Jenderal Besar (Purn) Soeharto.

Gerakan mahasiswa, baik yang berbentuk korektif maupun konfrontatif dapat dikategorikan sebagai gerakan politik nilai (values political movement), bukan gerakan politik kekuasaan (power political movement) seperti partai politik. Gerakan politik nilai (gerakan mahasiswa) berada dalam arena masyarakat sipil (civil society), sedangkan gerakan politik kekuasaan (partai politik) berada dalam arena masyarakat politik (political society).

Kenapa bersifat politik? Bila politik kita definisikan sebagai "aktivitas setiap individu, atau kelompok untuk mengubah kebijakan dan atau mengubah relasi sosial", maka aktivitas korektif dan atau konfrontatif gerakan mahasiswa selalu bertujuan mengubah kebijakan maupun relasi sosial dalam masyarakat atau negara.

Pada gerakan mahasiswa seperti 1966, 1974 (Malari), 1978, 1989, dan 1998, terlihat aktivitas korektif dan atau konfrontatif gerakan mahasiswa, pada analisis akhir, semuanya berujung pada perubahan kepemimpinan nasional dan perubahan struktural (relasi sosial, ekonomi, dan politik). Gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai selalu menjangkarkan diri pada nilai- nilai "serupa" sebagai pedomannya, tetapi selalu melakukan interpretasi baru atau kontekstualisasi sesuai perubahan ilmu pengetahuan dan realitas sosial, baik dalam aras lokal, nasional, maupun global.

Kritisisme dalam ilmu pengetahuan dan masyarakat berarti kesediaan setiap individu untuk berani memakai akal budinya sendiri secara bebas, otonom dan mandiri. Melihat individu dan masyarakat dalam totalitas dialektis lengkap dengan sejarah kontradiksinya.

Prinsip ini sesuai dengan ImmanuelKant, yang merumuskan slogan Sapere Aude! (Dare to Think!) sebagai penanda Abad Pencerahan. Individu berfungsi optimum mewujudkan seluruh potensi kemanusiaannya bila bebas memakai akal budi, membuat pilihan rasional, dan bertanggung jawab terhadap pilihan. Bila sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kebebasan, maka di bahu setiap individu yang dijamin hak individual dan hak sosialnya, pertumbuhan demokrasi, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kebudayaan memperoleh mesin penggerak utamanya.

Bila gerakan mahasiswa adalah gerakan politik nilai (values political movement) yang bersandar pada kritisisme dan budaya kritis, maka demokrasi yang diperjuangkannya untuk mewujudkan emansipasi individual dan sosial, pada analisis akhir, adalah scientifico critical democracy, demokrasi kritis yang ilmiah. Adakah keduanya sudah terjalin baik saat ini?

0 komentar: