.comment-body-author { background: #ffffff url(https://picasaweb.google.com/lh/photo/eS4D2Il6C9qx_vj9a0fdrg?feat=directlink) bottom right no-repeat; padding:0px 0px 80px 20px; }
twitter


karl popper

Pemikiran Karl Popper dan Thomas Kuhn tentang ”Science” . Apa persamaan dan perbedaannya?
Karl Popper berpendapat bahwa kita tidak dapat membuktikan bahwa suatu teori ilmu pengetahuan itu benar hanya dengan menambahkan bukti – bukti empiris yang baru. Sebaliknya, jika suatu bukti telah berhasil menunjukan kesalahan suatu teori, hal itu sudahlah cukup menunjukan bahwa teori tersebut tidak tepat. Kemudian, ia menunjukan bahwa suatu teori ilmiah tidak dapat selalu cocok dengan bukti – bukti yang ada. Bahkan, jika suatu teori mau dianggap sebagai teori ilmiah, teori tersebut justru haruslah dapat difalsifikasi. Tentu saja, didalam prakteknya, suatu teori tidak otomatis dinilai tidak memadai, hanya karena ada satu bukti yang berlawanan dengant teori tersebut. Mungkin saja, bukti bukti yang diajukan untuk memfalsifikasi suatu teori itulah yang justru tidak tepat.


Popper berpendapat bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada. Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu pengetahuan.

Sedangkan Thomas Khun, ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif.

Diketahui bahwa seluruh cara berpikir seorang ilmuwan pun selalu sudah dipengaruhi oleh paradigma tertentu, serta membutuhkan argumentasi yang sangat kuat dan signifikan untuk mengubah paradigma tersebut. Menurut Khun, suatu paradigma tidak selalu terbuka pada proses falsifikasi secara langsung. Dan karena suatu paradigma mempengaruhi proses penafsiran atas suatu bukti, maka bukti – bukti yang ada seringkali menyesuaikan dengan paradigma. Dibutuhkan lompatan yang penuh keberanian, jika seorang ilmuwan hendak mengganti paradigma yang telah dipakai sebelumnya.

Dapat disimpulkan dari Kuhn bahwa dengan ilmu pengetahuan dan proses perkembangannya, ilmu pengetahuan merupakan proses rutin pengumpulan data serta informasi, proses perluasan pengetahuan manusia yang ditandai dengan adanya pemikiran – pemikiran baru, dimana semua informasi yang telah didapat diperiksa kembali dan diletakkan dalam suatu perpektif yang baru.

Seperti yang dikatakan Popper sebelumnya bahwa proses perkembangan dan perubahan didalam paradigma ilmu pengetahuan berjalan lambat dan sangat bertahap. Dengan perkembangan di dalam pemikiran Kuhn, kita dapat melihat hal yang sebaliknya, yakni kemajuan di dalam ilmu pengetahuan adalah sebuah proses yang tak menentu dan tak teratur dengan perubahan tiba – tiba.

Dari beberapa uraian diatas bisa diambil kesimpulan bahwa kedua Filsuf mempunya visi dan pandangan yang sama untuk menciptakan ilmu – ilmu baru namun perbedaannya terletak pada cara mendapatkan atau menciptakan ilmu – ilmu baru tersebut. Jika kita setuju dengan pendapat Popper tentang proses falsifikasi, mungkin tidak akan banyak ditemukan perkembangan dan kemajuan di dalam ilmu pengetahuan. Suatu eksperimen ilmiah tidak pernah sepenuhnya benar, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya ambigu, sehingga harus digantikan saat itu juga. Popper berpendapat bahwa suatu data yang berlawan dengan teori yang ada dapat secara otomatis menyingkirkan teori yang ada tersebut. Namun dalam prakteknya, hal tersebut tidak terjadi. Jika ditemukan suatu data yang berlawanan dengan teori yang ada, ilmuwan biasanya akan mencari penjelasan terlebih dahulu tentang hal tersebut, seperti melihat kemungkinan bahwa eksperimen yang dilakukannya mungkin tidak tepat.

0 komentar: