.comment-body-author { background: #ffffff url(https://picasaweb.google.com/lh/photo/eS4D2Il6C9qx_vj9a0fdrg?feat=directlink) bottom right no-repeat; padding:0px 0px 80px 20px; }
twitter


Paradigma dalam Penelitian Kualitatif


Paradigma (paradigm) dapat ditafsirkan bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Ada yang menyatakan bahwa paradigma merupakan suatu citra yang fundamental dari suatu pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan-pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang sharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian paradigma adalah ibarat sebuah cendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak untuk menjelajahi dunia dengan wawasannya (world-view).

Namun secara umum, paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini sejalan dengan Guba yang dikonsepsikan oleh Thomas Kuhn sebagai seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita, baik kegiatan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah (Guba,1990). Selanjutnya paradigma diartikan sebagai (a) A set of assumptions and (b) beliefs concerning: yaitu asumsi yang “dianggap” benar (secara given). Untuk apat sampai pada asumsi itu harus ada perlakuan empirik (melalui pengamatan) yang tidak terbantahkan; accepted assume to be true (Bhaskar, Roy. 1989; 88-90). Dengan demikian paradigma dapat dikatakan sebagai Amental window, tempat terdapat “frame” yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya karena masyarakat pendukung paradigma telah memiliki kepercayaan. Dalam masyarakat banyak digunakan macam-macam paradigma, seperti adversarial paradigm dalam hukum, judgemental peradigm dalam olah raga, religious paradigm dalam kehidupan beragama dan lain sebagainya. Dalam pembahasan paradigma disini dibatasi hanya tentang paradigma pencarian ilmu pengetahuan (discipline inquiry paradigm), yaitu suatu keyakinan dasar yang digunakan berbagai kalangan untuk mencari kebenaran realitas menjadi suatu ilmu atau disiplin ilmu pengetahuan tertentu.[1]
PARADIGMA,POSITIVISME
Sejak abad pencerahan sampai era globalisasi ini, ada empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan dalam menemukan hakekat realitas atau ilmu pengetahuan yang berkembang dewasa ini. Paradigma ilmu itu adalah: Positivisme, Postpositivisme (yang kemudian disebut sebagai Classikal Paradigm atau Conventionalism Paradigm), Critical theory (Realism) dan Constructivism (Guba, Egon, 1990: 18-27). Perbedaan keempat paradigma ini bisa dilihat dari cara mereka dalam memandang realitas dan melakukan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan ditinjau dari tiga aspek pertanyaan: Ontologis, Epistemologis dan metodologis. Namun demikian, beberapa paradigma mempunyai cara pandang yang sama terhadap salah satu dari ketiga aspek pengembangan ilmu pengetahuan tersebut.[2]
Pembagian Paradigma Ilmu Sosial

Positivisme dan Postpositivisme
Konstruktivisme (interpretatif)
Critical Theory

Menempatkan ilmu sosial seperti ilmu-ilmu alam, yaitu suatu metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan “deductive logic” dengan pengamatan emperis, guna secara probabilistik menemukan atau memperoleh konfirmasi tentang hukum sebab-akibat yang bisa digunakan untuk memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.
Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap “social meaningful action” melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial dalam setting kehidupan sehari-hari yang wajar atau alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/ mengelola dunia sosial mereka.
Mentakrifkan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap ‘ the real structure” di balik ilusi, false needs yang ditampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan mereka.

Contoh teori
Contoh teori
Contoh teori

- Liberal political-economy (mainstreams)
- Teori modernisasi, teori pembangunan di negara berkembang.
- Symbolic inteteractionism (lowa school)
- Agenda setting, teori-teori fungsi media.
- Cultural/ contructivism political-economy (Golding & Murdock)
- Phenomenology, Ethnomethodology.
- Constructionism (Social construction of reality-Peter Berger).
- Structuralism political-economy (Schudson).
- Instrumentalisme political-economy (Chomsky, Gramsci dan Adorno).
- Theory of communicative action (Habermas).


Diambil dari Dedy N.Hidayat (Paradigma dan Methodology/09/12/98), Dikutip penulis dari Agus Salim, hal. 42.

0 komentar: